*Teruntuk ading2
kinday*
Tidak terasa perjalanan
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota Banjarmasin (PPMI DK Banjarmasin),
sudah pergantian sekjend baru. Perjalanan panjang yang tak begitu banyak
berarti. Ini bisa dilihat dari pengakuan sekjend kota (jaman acad) sendiri
disetiap kumpul. Jika boleh iri, kami sangat iri dengan dewan kota lain yang
terlebih dulu terbentuk. Terlihat rasa kebersamaan mereka, bahkan mereka sadar
mereka mempunyai wadah untuk berekspresi. Wadah untuk semuanya. Lihat saja PPMI
Jember, yang mempunyai tikungan, atau ppmi Jogjakarta yang mempunyai gawe.
Mungkin ppmi dk Banjarmasin masih merintis jalan kesitu. Mengumpulkan,
menjadikan satu pikiran dalam wadah yang tak punya apa-apa ini sulit. Ada 5 lpm
(Sekarang lebih banyak, lupa tepatnya berapa) yang bernanung di ppmi dk
Banjarmasin. Padahal sangat banyak lagi lpm-lpm lain di kota ini yang belum
bergabung dan kami takut untuk menerbangkan sayap, mengajak bergabung.
Jika boleh menyalahkan,
mungkin kami bisa menyalahkan orang luar. Efek media massa yang merangkul kami
sangat banyak. Istilah handak melakukan pembinaan dalam lingkup pers mahasiswa.
LPM di Banjarmasin seakan menjadi primadona. Siapa tidak bangga, menulis di
Koran besar, nama organisasi, pribadi bahkan kadang fasilitas yang diinginkan
oleh para awak pers mahasiswa disediakan begitu mudahnya oleh mereka. Seperti
yang pernah saya tuliskan sebelumnya. Ada benang merah yang bisa ditarik.
Benang merah positif dan benang merah negative.
Efek yang ditimbulkan luar biasa. LPM di Banjarmasin menjadi
terkotak-kotak. Sadar atau tidak sadar. LPM A adalah LPM nya media A, LPM B adalah LPM
nya media B (semoga efek ini tidak berlanjut). Sebenarnya tidak sehat terjadi
pengkotakkan seperti ini. Tulisan pun tidak lagi khas anak pers mahasiswa,
sudah tercampur gaya bahasa yang diinginkan pasar, istilah kerennya “ngepop”. Muncul pertanyaan apakah ini
sehat bagi pertumbuhan kami?
Sehat tidak sehat, itulah
yang akhirnya dijalankan LPM di Banjarmasin. Saling sikut untuk eksis di media
tertentu (dulu sih, sekarang kan lebih solid, mungkin). Mungkin sebagian besar
dari alumni pers mahasiswa memang ingin terjun menjadi wartawan. Akupun tidak
munafik, aku memang mempunyai keinginan besar untuk kesana. Siapa tidak mau, menjadi manusia keren, yang
harus lebih tahu dari polisi, lebih tahu dari wali kota. Sanggup menangkap
semua informasi, ke lima panca indra pun harus benar-benar hidup. Tapi bagiku,
sebuah pers mahasiswa, adalah satu-satunya pers mahasiswa penuh dinamika. Pers
mahasiswa tidak ada tuntutan tiap hari harus ada berita, mereka cenderung harus
menganalisis lebih dalam. Karena rata-rata media pers mahasiswa di Banjarmasin
terbit dua bulan sekali. Pers mahasiswa tidak dituntut lebih untuk mengimbangi
kemajua jaman, gaya yang dimau pembaca. Akan tetapi, analisanya lebih tajam.
Tidak untuk diperas mengisis style-style yang diinginkan penikmat media umum.
Pengharapan yang besar
ditengah eksistensi diri, pers mahasiswa di Bajarmasin, tetap hidup sedia kala.
Tidak mengikuti style maupun gaya penulisan media manapun. Buat teman-teman
yang meneruskan, mengisi kinday, tetap jadi diri sebagai pers mahasiswa, bukan
media umum. Di pers mahasiswa ini lah, kita dapat mengembangkan. Toh bila
nantinya pengen terjun, yakin lah seyakin-yakin lah kesematan kalian terbuka
lebar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar